Sewa Berbuntut Mala

Teks dan foto oleh Yusni Aziz

Gelombang gentrifikasi di George Town telah mendorong banyak warga lokal eksodus. Sejumlah organisasi kini meluncurkan inisiatif guna menyelamatkan kota cagar budaya ini dari keterpurukan.

Lagu India mengentak cepat mengiringi derap lincah para wanita yang dibalut ghagra choli. Warna-warni busana mereka kian semarak ketika mereka berputar-putar membentuk lingkaran. Satu per satu penonton bergabung dalam tarian, menjadikan putaran kian lebar. Dan saat musik akhirnya berhenti, segenap hadirin menutup pentas dengan tepuk tangan yang menggema ke penjuru George Town.

George Town Heritage Celebrations, ajang anual yang merayakan penobatan George Town sebagai Situs Warisan Dunia, berhasil menyuntikkan energi kebudayaan pada kota ini. Sebanyak 13 komunitas etnik memamerkan keunikan tradisi mereka lewat kata, gerak, nada, dan beragam instalasi. Pengunjung terhibur. Selain menonton pentas Tari Garba, mereka menyimak senandung merdu perempuan Tamil, belajar menuliskan nama dalam aksara Hokkien, juga mencicipi aneka kuliner.

Tahun ini, Heritage Celebrations mengusung tema Walk the Talk: Oral Traditions and Expressions. Tujuannya mengajak khalayak lebih mengenal dan peduli pada warisan budaya non-benda, umpamanya bahasa dan cerita rakyat. Niatnya luhur, tapi pemicunya sebenarnya rasa prihatin: eksistensi tradisi lisan di George Town sedang terancam.

George Town, Ibu Kota Negara Bagian Penang, telah menyandang predikat Situs Warisan Dunia sejak 2008. Kota bersejarah di tepi Selat Malaka ini menyimpan beragam struktur warisan Inggris dan kebudayaan yang dibentuk dari persinggungan antara Dunia Timur dan Barat. Sayangnya, sejumlah aspek budaya lokalnya justru terus terkikis. Banyak warga minggat. Rumah-rumah kosong bertaburan. Berbagai toko dan sanggar kriya yang sudah beroperasi selama beberapa generasi, telah ditutup. Alhasil, di kala malam, banyak ruas jalan diramaikan hanya oleh kawanan turis. Apa yang sebenarnya terjadi?

Kiri-kanan: Suasana meriah George Town Heritage Celebrations, ajang tahunan yang merayakan penobatan George Town sebagai Situs Warisan Dunia; dua wanita lokal menyusuri daerah historis lebuh Armenian.

Di masa lalu, George Town ibarat neon yang memikat serangga. Kota ini punya tempat khusus dalam peta perdagangan global. Di sinilah komoditas seperti rempah, karet, dan timah dilabuhkan, diperdagangkan, lalu dikapalkan menuju Tiongkok, India, Afrika, serta Eropa. Pada masa penjajahan, George Town merekah jadi bandar yang kian penting di Semenanjung Malaka. Pada 1786, Inggris menetapkannya sebagai pos dagang, kemudian mengangkatnya menjadi Ibu Kota Straits Settlements, koloni Inggris di Asia Tenggara.

Layaknya kota bandar, George Town juga kosmopolit. Kaum saudagar dan buruh berdatangan dari banyak negara, termasuk India dan Tiongkok. Pemkot membuka lebar-lebar pintunya bagi imigran, sebab mereka memang membutuhkan banyak buruh guna membangun infrastruktur dan mengoperasikan pelabuhan yang kian hari kian sibuk. Kita ingat, George Town dulu tak sekadar melayani lalu lintas barang. Di sinilah para jemaah haji transit sebelum meluncur ke Tanah Suci.

Tapi kemajuan itu kemudian memicu masalah. Pada 1890-an, populasi kota melonjak hampir dua kali lipat, dan dengan itu serangkaian problem urban pun bermunculan. Lantaran harga sewa rumah meroket, rata-rata 10 hingga 45 orang terpaksa tinggal seatap. Akibat buruknya sanitasi, kolera dan pes mewabah pada awal abad ke-20. Guna mengatasinya, penguasa Inggris menerbitkan sejumlah kebijakan, salah satunya Rent Control Act (RCA), regulasi yang bertujuan mengendalikan harga sewa pada ribuan bangunan. Aturan inilah yang kemudian menyisakan banyak masalah hingga hari ini.

RCA lahir dari iktikad yang mulia: menjamin tempat tinggal yang manusiawi di pusat kota bagi kaum pekerja. Tapi aturan yang diteken pada 1948 itu malah menjelma jadi racun yang membunuh George Town secara perlahan. Seiring menyusutnya pamor kota dalam peta perdagangan, bisnis pun melempem. Bersamaan dengan itu, banyak gedung berangsur bobrok dan pemiliknya tak sanggup memperbaikinya karena cekaknya kocek.

Pada 1997, otoritas Negara Bagian Penang mencabut RCA agar para pemilik bangunan memiliki pemasukan tambahan guna membenahi propertinya. Sayang, harapan itu juga kandas. Tarif sewa meroket terlalu pesat dan para penyewa kewalahan hingga banyak dari mereka akhirnya terdepak. Alih-alih menjala dana renovasi, para pemilik bangunan justru sepenuhnya kehilangan pemasukan.

Kondisinya makin kronis setelah George Town tercantum dalam daftar nominasi Situs Warisan Dunia. Sejumlah pengusaha lokal dan asing, terutama asal Singapura, berdatangan guna membeli bangunan-bangunan renta. Taktik para spekulan itu cukup agresif: tidak membeli satu atau dua bangunan saja, melainkan langsung memborong sederet di jalan yang sama. Terjepit kesulitan uang, para pemilik memutuskan melego properti mereka dan kota ini pun mengalami gentrifikasi.

Kiri-kanan: Warga lokal menikmati hidangan lokal di Gurney Drive Hawker Center; sekumpulan bocah ikut meramaikan George Town Heritage Celebrations

Suatu sore, Joann Khaw, seorang pemandu tur sejarah, membawa saya berkeliling kota. Dengan suaranya yang lantang, dia menunjukkan bangunan mana saja yang telah diambil alih World Class Land (WCL), raksasa real estat asal Singapura. “Minggu lalu, turis Filipina kaget saat saya bilang orang Singapura memiliki banyak bangunan di sini. Di Filipina, orang asing tidak bisa membeli properti. Bahkan di Singapura sendiri, orang asing tidak bisa membeli rumah tapak!” jelas Joann yang juga pendiri George Town Heritage Action.

Dikutip dari The Star, WCL telah memborong 236 bangunan kolonial di Penang sejak Desember 2013. Luas keseluruhannya kira-kira setara 26 lapangan sepak bola. Kehadiran investor sebenarnya sempat meniupkan asa baru bagi perekonomian lokal, tapi panggang ternyata masih jauh dari api. Isu klasik George Town masih berlanjut. Tarif sewa tetap memberatkan. Banyak kafe dan kios gulung tikar. “Ada orang tua yang memohon kepada pemilik bangunan agar dia bisa pindah setelah anaknya menyelesaikan sekolah di akhir tahun. Tapi pihak pemilik menolak. Saya melihatnya bercucuran air mata, dan itu sangat menyakitkan,” cerita Joann.

Satu buah positif dari kehadiran investor adalah restorasi bangunan tua, tapi dalam aspek ini pun banyak pihak tak puas dengan hasilnya. Menurut Joann, proyek perbaikan kurang mengindahkan karakter asli bangunan. Sejumlah bangunan dicat dengan warna selaras hitam-putih, dihiasi kanopi bergaya seragam, lalu dibubuhi nama-nama dengan tipografi yang senada. “Mereka harusnya merestorasinya seperti dulu! Kenapa jadi hitam putih? Kita tidak pernah punya ruko hitam putih,” keluh Joann.

Kiri-kanan: Seorang pedagang menggelar lapaknya di depan Masjid Lebuh Aceh; seorang turis berfoto dengan pemeran karakter Guan Yu

Tak semua orang memandang investor dengan sengit. Alex Lee, seniman yang sempat menghuni rumah warisan penjajah, percaya suntikan dana eksternal masih dibutuhkan guna membenahi kota. Masih basah dalam ingatannya kejadian setahun silam ketika dia memanggil seorang tukang untuk memeriksa kondisi bangunan yang disewanya. “Rumah saya saat itu punya masalah di atap. Seorang tukang pernah mengecek, dan dia temukan balok-balok kayunya sudah membusuk. Sewaktu-waktu bisa saja kolaps,” kenangnya.

Untuk masa depan George Town, Alex kini lebih menaruh harapan pada “kebaikan pasar.” Menurutnya, krisis akan terkoreksi dengan sendirinya. Investor tentunya tak akan sudi membiarkan propertinya lowong terlalu lama tanpa penyewa. “Saya percaya pasar akan stabil nantinya. Untuk sekarang biarkan semuanya tumbuh natural.”

Bagi Alex, penghambat kemajuan George Town kini justru sikap kaku para konservator. Bisnis-bisnis kontemporer sulit mendapat tempat karena dianggap menodai “kesucian” kota tua. Padahal, demi menggairahkan perekonomian, George Town mesti lebih terbuka. “Saya bisa membuat lampion yang keren seperti punya IKEA, tapi mereka akan bilang itu bukan budaya lokal dan akan menolaknya,” tutur Alex. “Saya rasa mereka harus paham budaya terus berkembang dan berubah.”

Sejarah masih menjadi magnet George Town. Banyak orang melawat kota ini karena terpikat oleh bangunan dan ruko sepuh warisan era kolonial. Menjelajahi kawasan utara dan barat kota, kita bisa menemukan rumah-rumah warisan warga Eropa dan gedung-gedung megah yang dulu menampung kantor jawatan. Memasuki jantung kota, kita bisa mengarungi Little India, pecinan, hingga kantong muslim asal Aceh.

George Town kini harus memastikan semua aset itu tak lantas teronggok jadi prasasti. Pencabutan RCA terbukti gagal menanggulangi tuntas problem perawatan struktur tua, sementara gelombang gentrifikasi cenderung menundukkan kepentingan masyarakat di bawah kalkulasi bisnis. Tak jelas sampai kapan kota ini sanggup menanti “kebaikan pasar.” Merujuk data Khazanah Research Institute, pada 2009, sekitar 8.500 dari total 18.660 penghuni kota telah hengkang, sementara pada 2015 tercatat setidaknya 211 properti terbengkalai. Kondisi yang mengkhawatirkan tentunya bagi sebuah kota cagar budaya.

Tak mudah memang membenahi George Town. Banyak kepentingan berseberangan. Kota ini seakan terjepit di antara agenda bisnis, inisiatif konservasi, dan sentimen nasionalisme. “Sangat susah membuat berbagai pihak bekerja sama,” tutur Ng Hooi Seam, seorang peneliti perkotaan

Kiri-kanan: Anitya berdandan dalam baju tradisional Tamil saat menghadiri Heritage Celebrations; sepeda merupakan moda yang populer untuk mengarungi George Town

Satu solusi yang diajukan Hooi Seam adalah deregulasi tarif sewa. Melalui skema finansial baru ini, dia berharap pengusaha muda akan berdatangan untuk mengisi area pusat kota. Untuk mewujudkannya, lanjut Hooi, pemerintah harus turun tangan dengan menaungi semua pihak dan memberikan visi jangka panjang. “Tanpa visi itu, pergerakan kita hanya akan tercerai-berai,” jelasnya.

Tak semua orang menunggu turunnya kebijakan politik baru. Sejumlah organisasi telah meluncurkan terobosan guna mencegah keterpurukan kota. George Town World Heritage Incorporated, organisasi yang merawat kota tua, tengah merestorasi Kuil Ng Fook Thong dan enam ruko di daerah Lebuh Kimberley demi mencegahnya berpindah ke tangan asing. Dua institusi lainnya, ThinkCity dan Asian Coalition for Housing Rights, membantu pemugaran ruko di Lebuh Armenian. Tan Tiek Leong, pemilik toko sepeda yang sudah menetap di sini selama 53 tahun, adalah salah seorang pengusaha yang menerima manfaatnya. Kini dia menyewa ruko dengan tarif yang terjangkau dari Asosiasi Khoo Kongsi hingga 2023. “Kami adalah warisan hidup kota, jadi mereka masih ingin kami tinggal di sini,” ujarnya.

Masih di Lebuh Armenian, saya menemui Chee Leong, seorang desainer interior yang turut diuntungkan dari insentif tarif sewa. Dia memutuskan pindah ke daerah ini pada 2010 karena jatuh cinta pada atmosfernya dan keindahan bangunan tuanya. “Di apartemen, kamu tidak tahu siapa yang tinggal di sebelahmu. Di sini, saya bisa berbincang dengan tetangga, bertukar cerita, sesekali menerima makanan dari mereka,” ujarnya

Menurut Chee Leong, banyak pengusaha muda ingin membuka bisnis di George Town, dan perekonomian kota ini memang akan bangkit jika para pemilik bangunan bisa mendukung usaha mereka. George Town tersohor berkat koleksi bangunan tuanya. Tapi untuk masa depannya, kota ini mesti berharap pada suntikan “darah muda.”

Kiri-kanan: Suasana teras sebuah ruko yang telah diubah menjadi hotel; Belasan remaja menanti sesi tampil di festival Meng Eng Soo

Artikel ini dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari-Maret 2018, dan website DestinAsian Indonesia

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *